hari raya kuningan

Sabtu kemarin, tepatnya pada tanggal 24 April 2021 umat Hindu Dharma telah merayakan Hari Raya Suci Kuningan. Perayaan hari Raya Kuningan ini jatuh pada Saniscara atau Sabtu, wuku Kuningan.

Sekedar informasi, Hari Raya Kuningan dilaksanakan oleh umat Hindu setiap 210 hari sekali. Untuk perhitungan kalender, Hari Raya Kuningan dihitung berdasarkan kalender Bali ((1 bulan dalam kalender Bali = 35 hari).

Makna Hari Raya Kuningan

Kata “Kuningan” memiliki makna “kauningan” yang artinya mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara bahaya.

Tidak hanya itu, Hari Raya Kunigann sendiri adalah hari resepsi bagi hari Galungan yang merupakan hari kemenangan dharma melawan adharma dan pemujaannya ditujukan kepada para Deva dan Pitara agar turun melaksanakan pensucian serta mukti, atau menikmati sesaji yang dipersembahkan.

Dalam Kitab Sarasamuccaya (Sloka 43), disebutkan bahwa keutamaan dharma bagi orang yang melaksanakannya yaitu:

“Kuneng sang hyang dharma, mahas midering sahana, ndatan umaku sira, tan hanenakunira, tan sapa juga si lawanikang naha-nahan, tatan pahi lawan anak ning stri lanji, ikang tankinawruhan bapanya, rupaning tan hana umaku yanak, tan hana inakunya bapa, ri wetnyan durlaba ikang wenang mulahakena dharma kalinganika.”

Terjemahan: “”Adapun dharma itu, menyelusup dan mengelilingi seluruh yang ada, tidak ada yang mengakui, pun tidak ada yang diakuinya, serta tidak ada yang menegur atau terikat dengan sesuatu apapun, tidak ada bedanya dengan anak seorang perempuan tuna susila, yang tidak dikenal siapa bapaknya, rupa-rupanya tidak ada yang mengakui anak akan dia, pun tidak ada yang diakui bapa olehnya”.

Makna lainnya terkutip dalam Bhagawan Dwija, yang mengatakan bahwa Hari Raya Kuningan adalah hari dimana mengadakan janji/pemberitahuan/nguningang, baik kepada diri sendiri, maupun kepada Ida Sanghyang Parama Kawi, bahwa dalam kehidupan kita akan selalu berusaha memenangkan dharma dan mengalahkan adharma (antara lain bhuta dungulan, bhuta galungan dan bhuta amangkurat).

Selain itu, Sarasamuccaya (sloka 564) juga menyebutkan;

“Lawan ta waneh, atyanta ring gahana keta sanghyang dharma ngaranira, paramasuksma, tan pahi lawan tapakning iwak ring wwai, ndan pinet juga sire de sang pandita, kelan upasama pagwan kotsahan.”

Terjemahan: “Lagi pula terlampau amat mulia dharma itu, amat rahasia pula, tidak bedanya dengan jejak ikan didalam air, namun dituntut juga oleh sang pandita dengan ketenangan, kesabaran, keteguhan hati terus diusahakan.”

Mengapa Hari Raya Kuningan Dilaksanakan Sebelum Jam 12 Siang?

Bagi sebagian orang, pasti ada yang mempertanyakan “mengapa Hari Raya Kuningan harus dilaksanakan sebelum jam 12 siang?” Nah, berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan tersebut.

Penyelenggaraan atau pelaksanaan upacara Kuningan disyaratkan agar dilaksanakan pada pagi hari dan sangat tidak dibenarkan setelah matahari condong ke arah barat.

Alasannya adalah karena pada saat Hari Raya Kuningan, Ida Sanghyang Widhi Wasa memberkahi dunia dan umat manusia sejak jam 00:00 dini hari sampai jam 12:00 siang. Lantas, mengapa harus sampai jam 12:00 siang?

Hal tersebut dikarenakan energi alam semesta (panca mahabhuta: pertiwi, apah, bayu, teja, akasa) bangkit dari pagi hingga mencapai klimaksnya di bajeg surya (tengah hari). Setelah lewat bajeg surya disebut masa pralina (pengembalian ke asalnya) atau juga dapat dikatakan pada masa itu energi alam semesta akan menurun dan pada saat sanghyang surya mesineb (malam hari) adalah saatnya beristirahat (tamasika kala).

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.